putra Mahkota Iran Reza Pahlevidiusir dari tanah airnya sejak pecahnya Revolusi Iran pada tahun 1979, kembali muncul di mata publik.
Reza Pahlavi mendukung demonstrasi besar-besaran anti-pemerintah di negara Timur Tengah tersebut.
Demonstrasi tersebut, yang dipicu oleh krisis ekonomi yang semakin parah, telah menyebar ke hampir 100 kota dan mengakibatkan kerusuhan yang menewaskan hampir 40 orang. Bahkan rezim Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei telah memblokir internet untuk meredam keresahan demonstrasi.
Dalam video yang diambil dari tempat dia melarikan diri, putra mantan Shah Iran terakhir sebelum Revolusi Iran menggulingkannya pada tahun 1979, menyerukan warga Iran untuk kembali turun ke jalan.
Pahlavi juga memuji para pengunjuk rasa yang berani turun ke jalan di tengah respons represif pemerintah dan meminta para pengunjuk rasa untuk melanjutkan aksinya.
“Saya bangga dengan Anda masing-masing yang turun ke jalan di seluruh Iran pada Kamis malam,” kata Pahlavi dalam video seperti dikutip Iran International, Sabtu (10/1).
Seberapa Kuat Pengaruhnya di Iran?
Sejak tahun 1979 Pahlavi belum lagi menginjakkan kaki di negara kelahirannya. Pasalnya, keluarganya kehilangan tahta pada tahun 1979, saat Pahlavi berusia 17 tahun. Melalui website pribadinya, 1, ia menjelaskan tentang dirinya dan keluarganya.
Saat remaja pada tahun 1978, ia sudah menjalani pelatihan jet tempur di Angkatan Udara Amerika Serikat di Pangkalan Angkatan Udara Reese di Lubbock, Texas.
Di pengasingan ia menikah dengan Yasmine Etemad-Amini pada 12 Juni 1986. Mereka dikaruniai tiga orang putri: Noor Pahlavi (lahir 3 April 1992), Iman Pahlavi (lahir 12 September 1993), dan Farah Pahlavi (lahir 17 Januari 2004).
Reza Pahlavi sangat meyakini persamaan hak antara laki-laki dan perempuan dan oleh karena itu, ia menyatakan bahwa putrinya, Noor, Iman, dan Farah, adalah ahli warisnya.
Bersambung di halaman berikutnya…

