Site icon Pahami

Berita Curhat WNI Terjebak di Pulau Socotra Yaman Imbas Gempuran Saudi

Berita Curhat WNI Terjebak di Pulau Socotra Yaman Imbas Gempuran Saudi


Jakarta, Pahami.id

Salah satu Warga Negara Indonesia (WNI) berbagi cerita terjebak di sebuah pulau yang sering disebut sebagai tempat persembunyian Dajjal atau disebut Pulau Dajjal, Pulau Socotra, Yaman selatan, akibat serangan itu Arab Saudi.

Subarkah, warga negara Indonesia, mengatakan, pada 1 Januari lalu, penerbangan dari dan ke bandara utama Socotra ditutup akibat konflik antara kelompok pendukung Arab Saudi dan Uni Emirat Arab di Yaman. Keesokan harinya tiket keberangkatan dari Socotra juga dibatalkan.


Beberapa jadwal keberangkatan penerbangan pada tanggal tersebut dibatalkan. Wisatawan yang diperkirakan berangkat pada periode tersebut, termasuk tiga WNI, tidak bisa meninggalkan Socotra, kata Subarkah saat dihubungi CNNIndonesia.com, Jumat (9/1).

Gejolak di Yaman bermula ketika kelompok yang didukung Uni Emirat Arab, Dewan Transisi Selatan (STC), merebut sebagian besar wilayah di Provinsi Hedramaut, Yaman selatan pada awal Desember 2025.

Arab Saudi mendukung Dewan Pimpinan Presiden di bawah kendali Rashad Mohammed Al Alimi.

Kemudian pada tanggal 30 Desember, koalisi Saudi menggerebek Pelabuhan Mukalla dengan sasaran kapal kargo UEA yang diduga membawa senjata untuk mendukung STC.

Menanggapi serangan tersebut, pemerintah Yaman mengumumkan keadaan darurat dan menyerukan penarikan pasukan UEA dari negara tersebut dalam waktu 24 jam.

Kemudian pada tanggal 2 Januari, Saudi menyerang pangkalan militer STC di Hadramaut dan menimbulkan banyak kerusakan. Dua hari kemudian, pasukan yang berafiliasi dengan STC dilaporkan melakukan serangan terhadap pasukan koalisi Saudi di Pulau Socotra.

Situasi ini semakin memperburuk situasi keamanan dan memperkuat pembatasan operasi penerbangan sipil dari dan ke Socotra.

Pada hari yang sama, koalisi pasukan pemerintah Arab Saudi dan Yaman memasuki Aden, Yaman selatan, wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh STC. Mereka pun mulai merebut wilayah lain.

Akibat pertikaian antara proksi Saudi dan UEA, ratusan turis asing terjebak di Socotra.

Buka penerbangan terbatas

Kemudian pada 7 Januari, Saudi mulai membuka penerbangan terbatas. Subarkah mengatakan, akses terbatas diperuntukkan bagi warga negara yang perwakilan diplomatiknya melakukan intervensi keras untuk mendapatkan kursi penumpang.

“Tiga WNI masih terjebak di Socotra,” ujarnya.

Subarkah juga mendengar informasi bahwa dua penerbangan tambahan kabarnya akan diberangkatkan dalam waktu dekat atau beberapa hari ke depan. Namun, akses terhadap penerbangan tersebut, katanya, masih terbatas dan sangat dipengaruhi oleh campur tangan diplomatik.

Saat ini, dia sudah memegang tiket keluar dari Socotra.

“Kami sudah memiliki tiket dan menunggu penerbangan dari Yemenia Airways,” ujarnya.

Selama terjebak di Pulau Socotra, Subarkah dan warga Indonesia lainnya menggunakan uang mereka sendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sehari, dia menghabiskan US$75.

Jika dihitung pada 1-9 Januari, ia mengeluarkan uang sekitar US$675 atau sekitar Rp. 11 juta.

Ia pun harus membeli tiket dengan biaya sendiri sebesar US$1.250 karena tiket sebelumnya telah hangus akibat konflik.

“Kami harus membayar sendiri, termasuk semua biaya tambahan menginap dan biaya tiket transfer dari Socotra ke Jeddah,” kata Subarkah.

Sementara itu, Duta Besar RI untuk Yaman merangkap Oman, Mohammad Irzan Djohan mengatakan, Kementerian Luar Negeri Yaman telah memberikan informasi bahwa pihak terkait telah memasukkan WNI dalam daftar penumpang penerbangan menuju Jeddah.

“Tiket untuk WNI sudah dikeluarkan [diterbitkan] Untuk Yemenia Airways penerbangan IY 5000 tanggal 9 Januari 2026 dengan perkiraan keberangkatan pukul 10.30 waktu Socotra, perkiraan tiba pukul 13.30 waktu Jeddah, kata Irzan kepada Pahami.id.

(isa/bac)


Exit mobile version