Site icon Pahami

Berita China Jengkel, Desak AS dan China Patuh Gencatan Senjata

Berita China Jengkel, Desak AS dan China Patuh Gencatan Senjata


Jakarta, Pahami.id

Cina mendesak Amerika Serikat Dan Iran “menghormati” gencatan senjata, serta mendesak pihak-pihak yang bertikai untuk tidak memulai “perang baru”.

“Tiongkok sangat prihatin dengan situasi saat ini,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Mao Ning seperti dikutip Agensi Anadolu.


Pernyataan pemerintah China tersebut disampaikan setelah AS melakukan serangan di Pulau Qeshm, sebagai “respon terhadap upaya serangan Iran di seluruh Timur Tengah”.

Mao bersikeras bahwa “perang baru” tidak menguntungkan siapa pun.

“Kami berharap para pihak dapat menghargai peluang perdamaian, menghormati komitmen gencatan senjata, dan menjaga momentum negosiasi,” kata Mao.

Ia juga menekankan bahwa semua pihak harus patuh menyelesaikan perselisihan melalui cara politik dan diplomatik, serta mewujudkan gencatan senjata komprehensif sesegera mungkin.

“Dan menciptakan kondisi yang diperlukan untuk memulihkan perdamaian dan ketertiban di Timur Tengah,” tambahnya.

AS dan Iran kembali melakukan serangan udara, meski gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April. Perang pecah setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari.

Sebelumnya, Iran mengaku berhasil menyerang kapal perang AS yang menjadi pusat kendali dan komando militer pada Rabu (3/6).

Kantor Hubungan Masyarakat (Humas) Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran mengatakan serangan itu diluncurkan Selasa malam di dekat Selat Hormuz dengan menggunakan rudal udara.

“Menanggapi agresi dan pelanggaran peraturan di Selat Hormuz, sebuah kapal musuh Amerika-Zionis bernama Panaya menjadi sasaran rudal yang ditembakkan oleh Angkatan Laut IRGC,” lapor Kantor Humas IRGC, seperti dikutip Tasnim.

Menurut IRGC, AS telah menyerang menara komunikasi IRGC di selatan Pulau Qeshm dengan rudal udara.

IRGC bersikeras bahwa setiap serangan yang dilancarkan terhadap Iran akan ditanggapi dengan “respon yang berbeda dan lebih parah”.

“Kami tegaskan kembali bahwa mengganggu keamanan Selat Hormuz akan berdampak buruk bagi pasukan AS yang agresif,” kata Kantor Hubungan Masyarakat IRGC dalam sebuah pernyataan.

(Dna)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version