Jakarta, Pahami.id —
Kekacauan pecah saat rapat parlemen Turki mengikuti keputusan Presiden Recep Tayyip Erdoğan menunjuk sosok kontroversial yakni Kepala Jaksa Penuntut Umum Istanbul Akin Gurlek sebagai Menteri Kehakiman dalam perombakan kabinet terbatas, Rabu (11/2).
Kekacauan dimulai ketika anggota parlemen oposisi berusaha mencegah Gurlek mengambil sumpah jabatan dengan menyerbu podium, memicu insiden saling dorong yang dengan cepat berubah menjadi perkelahian antara sesama menteri dan anggota parlemen.
Luncurkan situsnya Berita Telukrekaman video menunjukkan anggota Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) pimpinan Erdogan melindungi menteri saat kekacauan terjadi.
Gurlek masih dilantik dan dilantik dengan pengamanan dari anggota partai yang berkuasa.
Mengutip laporan Pers terkait (AP)Gurlek dianggap sebagai sosok yang kontroversial karena rekam jejaknya selama menjabat sebagai Kepala Jaksa Istanbul.
Ia memimpin beberapa persidangan terhadap anggota partai oposisi utama, Partai Rakyat Republik (CHP), serta menangani berbagai kasus penting terhadap tokoh oposisi.
Salah satunya adalah dikeluarkannya surat perintah penangkapan terhadap Wali Kota Istanbul, Ekrem Imamoglu, yang dianggap sebagai rival terkuat Erdogan pada pemilu presiden mendatang.
Kritikus mengatakan pemerintah menggunakan sistem peradilan sebagai alat untuk melemahkan lawan politik.
Dalam perombakan yang sama, Erdogan juga menunjuk Gubernur Provinsi Erzurum di wilayah timur, Mustafa Ciftci, sebagai Menteri Dalam Negeri.
Perombakan ini merupakan perombakan kabinet pertama yang dilakukan Erdogan sejak pemilu 2023 dan mencerminkan semakin tajamnya polarisasi politik di Türkiye.
Tidak ada alasan resmi yang diumumkan untuk perombakan kabinet tersebut, meskipun berita resmi pemerintah mengatakan para menteri yang diganti telah “meminta untuk diberhentikan” dari jabatan mereka.
Penunjukan baru ini terjadi di tengah perdebatan mengenai reformasi konstitusi dan upaya perdamaian dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) untuk mengakhiri konflik selama beberapa dekade.
Parlemen diperkirakan akan meloloskan reformasi untuk mendukung proses tersebut.
Insiden di parlemen menarik perhatian internasional dan menyoroti rapuhnya standar demokrasi di salah satu negara anggota utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Di tengah meningkatnya tekanan ekonomi dan ketegangan regional, kekerasan di parlemen mencerminkan meningkatnya ketegangan politik menjelang pemilihan presiden tahun 2028.
(rnp/rds)

