Site icon Pahami

Berita Cerita Siswa SD Tanah Datar Sumbar 2 Bulan Belajar di Tenda Darurat

Berita Cerita Siswa SD Tanah Datar Sumbar 2 Bulan Belajar di Tenda Darurat


Jakarta, Pahami.id

Murid SDN 11 Bungo Tanjuang, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat (Membanggakan) tetap semangat dan bersemangat mengikuti proses belajar mengajar di kamp darurat.

“Belajar di tenda sementara tetap asyik dan seru,” kata salah satu siswa SD Negeri 11. di antaraJumat (23/1).

Siswa di sekolah tersebut terpaksa belajar di tenda darurat sejak awal Januari 2026, setelah tembok tebing sekolah terancam roboh. Polisi memasang garis polisi untuk mencegah siswa dan guru mendekat ke kiri dan kanan lapangan.


Siswa kelas IV itu mengaku tetap bersemangat mengikuti proses pembelajaran meski siang hari cuaca sudah mulai panas. Dukungan dan motivasi guru menjadi alasan mengapa siswa tetap belajar seperti biasa.

Kendati demikian, ia berharap pemerintah dapat segera memperbaiki tembok sekolah sisi kiri dan kanan karena sejumlah ruangan tidak bisa digunakan karena terancam roboh. Bahkan, tempat atau fasilitas wudhu sekolah tersebut ambruk saat hujan deras pada akhir November 2025.

“Kami sudah dua bulan belajar di tenda, namun tetap semangat,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu guru SD 11 Negeri Bungo Tanjuang, Herna Permata Sari mengatakan, pihak sekolah terpaksa melaksanakan proses belajar mengajar di tenda darurat karena enam kelas terancam roboh.

Dalam sehari ada dua kelas yang bergantian mengikuti proses belajar mengajar di tenda darurat. Pihak sekolah juga telah melakukan beberapa penyesuaian termasuk jam pelajaran.

“Proses belajar mengajar dimulai pukul 07.00 hingga 10.00 WIB. Setelah itu, kami melanjutkan pembelajaran di ruang kelas yang kosong,” ujarnya.

Herna berharap pemerintah segera mencari solusi agar proses belajar mengajar lebih aman. Sebab, jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan akan terjadi dampak yang lebih buruk.

“Menjelang sore, matahari mulai terik dan anak-anak kepanasan,” ujarnya.

Dia mengatakan, polisi sudah dua kali memasang garis polisi di sekitar sekolah menyusul runtuhnya tembok tebing. Pemasangan pertama dilakukan pada akhir tahun 2024, saat bangunan toilet dan tempat wudhu di sebelah kiri sekolah ambruk setelah beberapa hari diguyur hujan deras.

Belakangan, polisi kembali memasang garis polisi di sisi kanan sekolah setelah tembok tebing juga runtuh sehingga menyebabkan beberapa gedung sekolah retak.

(tim/dal)


Exit mobile version