Jakarta, Pahami.id —
Founder & CEO SejutaCita Future Leaders (SFL) Andhika Sudarman terlibat kasus dugaan tersebut pelecehan seksual. Andhika dikenal sebagai pengusaha jebolan Harvard University dan mendapat beasiswa LPDP.
Tuduhan pelecehan seksual ini pertama kali dibagikan di media sosial X. Lewat thread X yang kemudian viral, Andhika Sudarman diduga melakukan pelecehan seksual terhadap peserta SFL. Beberapa dari mereka adalah anak di bawah umur.
SFL merupakan program dari platform yang didirikan oleh Andhika. SFL merupakan program Edu-Leadership Trip ke luar negeri bagi WNI berusia 13-35 tahun yang membawa nilai transformasional bagi Pertumbuhan Pribadi dan Perencanaan Karir Masa Depan. Untuk mengikuti program ini, peserta diharuskan membayar sekitar Rp 30 juta.
Dalam unggahannya di
Salah satunya ketika para peserta mengakui bahwa sesi belajar dan bimbingan karir yang dijanjikan sepanjang perjalanan justru membahas soal seksual dan tidak relevan.
“Pendampingan Sekolah (SMP-SMA). Para peserta diminta bersumpah jika membocorkan pembicaraan tersebut mereka tidak akan diterima di universitas impiannya. Mawar, salah satu peserta studi fesyen mengungkapkan kekhawatirannya ingin lulus jurusan semasa kuliah. AS mengatakan bahwa Mawar tidak memiliki masa depan,” adalah salah satu hal yang disampaikan @matchagreen100.
“AS juga mengatakan kalau Rose itu cantik dan polos. Selain itu, AS juga bertanya kepada Mawar, “menurutmu, dari 1.000 teman laki-lakiku, berapa yang bisa dipercaya?” Melati ditanya AS apakah tak berniat melepas hijab meski berada di luar negeri. AS pun sesekali menepuk-nepuk paha Lili layaknya teman sebaya hingga menimbulkan rasa tidak nyaman. AS bercerita, temannya pernah menjalin hubungan intim hingga akhirnya putus.”
Andhika meminta maaf
Usai viral, Andhika meminta maaf lewat unggahan di akun Instagram pribadinya, @andhikasudarman_.
“Saya memahami bahwa situasi yang berkembang sejak akhir Februari 2026 telah menimbulkan banyak kekhawatiran dan kekhawatiran. Untuk itu saya mohon maaf kepada seluruh peserta, alumni, orang tua, mantan rekan, rekan dan pihak lain yang merasa risih dengan kejadian ini.kata Andhika.
Dalam unggahannya, Andhika menyampaikan tiga poin utama. Pertama, terkait implementasi program SFL.
Dikatakannya, SFL dirancang sebagai program pengembangan kepemimpinan berdasarkan pendekatan partisipatif. Tujuannya untuk melatih kemandirian, kemampuan memecahkan masalah dan keberanian mengambil keputusan.
Andhika mengaku paham bahwa selama pelaksanaan ada pengalaman yang tidak sesuai harapan beberapa peserta sepanjang program berlangsung. Oleh karena itu, ia meminta maaf kepada alumni dan orang tua.
Kedua, terkait tudingan komunikasi dan interaksi. Andhika memahami tudingan tersebut merupakan persoalan yang sangat serius. Ia pun mengaku mengapresiasi keberanian masing-masing pihak yang berbagi pengalaman, kekhawatiran, dan kekhawatirannya.
“Membaca dan mendengar ini menjadi refleksi penting bagi saya bahwa dalam lingkungan profesional, khususnya pada program-program yang melibatkan generasi muda, batasan-batasan interaksi harus dijaga lebih jelas,” kata Andhika.
“Saya memahami bahwa setiap orang mempunyai batasan kenyamanan yang berbeda-beda. Perasaan masing-masing individu adalah sah, apa pun niat pihak lain. Pengalaman ini juga menyadarkan saya bahwa gaya komunikasi saya bisa menimbulkan kesalahpahaman bagi sebagian orang,” lanjutnya.
Atas dasar itu, Andhika meminta maaf kepada seluruh pihak yang merasa risih berinteraksi dengannya.
Namun, saya tegaskan bahwa saya tidak pernah melakukan atau berniat melakukan pelecehan seksual terhadap siapa pun apalagi anak di bawah umur. Saya tetap membuka ruang komunikasi bagi siapapun yang ingin menyampaikan pengalaman atau penjelasannya secara langsung, ujarnya.
Saya juga mengundang lembaga pihak ketiga yang independen dan berwibawa untuk melakukan verifikasi menyeluruh terhadap seluruh tudingan yang beredar. Saya berharap proses ini dapat memberikan kejelasan kepada semua pihak, lanjutnya.
Ketiga, terkait lingkungan kerja. Andhika menuturkan, dirinya memperhatikan berbagai pengalaman yang dibagikan mantan rekannya di media sosial.
Dikatakannya, setiap masukan menjadi bahan evaluasi serius baginya. Ia juga meminta maaf kepada siapapun yang merasa tidak memiliki lingkungan kerja yang profesional dan sehat, serta memastikan hal tersebut tidak terulang kembali.
Dalam keterangannya, Andhika juga mengatakan evaluasi terhadap program SFL akan dilakukan sebagai bentuk akuntabilitas profesional.
“Untuk menjaga objektivitas dan menunjukkan keseriusan saya, efektif hari ini seluruh pengelolaan program SFL akan dipimpin oleh Geraldine Abigail. Geraldine Abigail akan memimpin evaluasi dan memastikan kelancaran seluruh tata kelola dan pelaksanaan program SejutaCita,” ujarnya.
(des/dal)

