Jakarta, Pahami.id —
Negara-negara Teluk dan Arab meningkatkan upaya diplomatik untuk mencegah eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Hal ini terjadi di tengah kekhawatiran mengenai potensi dampak keamanan dan ekonomi di wilayah tersebut.
Negara-negara Teluk disebut tidak menginginkan kekacauan yang mungkin terjadi jika Amerika Serikat melancarkan serangan militer ke Iran atau jika Republik Islam runtuh.
Kekhawatiran ini semakin meningkat menyusul ancaman tindakan militer dari Presiden AS Donald Trump terhadap Teheran, ketika Iran dilanda gelombang protes nasional.
Di balik layar, Arab Saudi dilaporkan melobi pemerintah AS agar tidak menyerang Iran. Sementara itu, Qatar dan Oman memfokuskan upaya pada hubungan diplomatik antara pejabat Iran dan Amerika Serikat.
Laporan Aljazeera pada Jumat (16/1) mengungkapkan bahwa ketiga negara tersebut meningkatkan intensitas diplomasi setelah laporan pada Rabu menyatakan bahwa komunikasi antara Washington dan Teheran telah terputus, sehingga memicu kekhawatiran akan terjadinya serangan militer.
Analis Teluk dan rekan non-residen di Arab Gulf States Institute, Anna Jacobs Khalaf, mengatakan negaranya khawatir karena saluran komunikasi tradisional antara AS dan Iran tidak digunakan.
“Mereka semua khawatir karena semua saluran tradisional [antara AS dan Iran] “Itu tidak digunakan, setidaknya dari pihak AS,” kata Anna Al JazeeraJumat (16/1).
Kekhawatiran serupa juga diungkapkan asisten profesor studi keamanan kritis di Institut Studi Pascasarjana Doha, Muhanad Seloom, yang mengatakan para pejabat Dewan Kerjasama Teluk (GCC) tidak mengetahui secara pasti niat Amerika Serikat.
“Petugas GCC [Dewan Kerjasama Teluk] tidak tahu apa niat AS,” kata Seloom.
Ketegangan meningkat
Ketegangan meningkat setelah Trump berulang kali mengancam akan melakukan tindakan militer terhadap Iran atas kekerasan selama demonstrasi. Pihak berwenang Iran mengatakan lebih dari 100 anggota pasukan keamanan tewas dalam bentrokan dengan pengunjuk rasa, sementara aktivis oposisi menyebutkan jumlah korban tewas lebih dari 1.000 sejak protes meletus pada akhir Desember. Angka-angka ini belum diverifikasi secara independen.
Trump juga meminta Iran untuk mengambil kendali atas lembaga-lembaga negara dan mencatat bahwa bantuan sedang dalam proses. Pernyataan ini memicu peningkatan kekhawatiran di wilayah tersebut, meski bentuk serangan yang dimaksud tidak dijelaskan.
Negara-negara Teluk Arab menilai serangan militer terhadap Iran berpotensi mengganggu harga minyak, merusak citra kawasan sebagai tujuan bisnis yang aman, dan memicu serangan balik Iran di wilayahnya.
Kekhawatiran tersebut didasarkan pada pengalaman sebelumnya, antara lain serangan terhadap fasilitas minyak Arab Saudi pada tahun 2019 dan serangan Iran terhadap pangkalan udara Al Udeid di Qatar pada Juni lalu setelah AS menyerang fasilitas nuklir Iran.
Pada hari Rabu, seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa Teheran telah memperingatkan negara-negara regional, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Turki, bahwa pangkalan militer AS di negara-negara tersebut akan diserang jika Washington menargetkan Iran. Pernyataan tersebut disusul dengan penarikan sebagian personel dari pangkalan Al Udeid.
Meskipun masing-masing negara GCC memiliki hubungan yang berbeda dengan Iran, para ahli mengatakan semua negara khawatir akan kemungkinan kekosongan kekuasaan atau runtuhnya sistem pemerintahan di Teheran. Pengalaman kisruh di Irak pasca invasi AS pada tahun 2003 menjadi salah satu pertimbangan utama.
Qatar, Kuwait dan Oman telah memelihara hubungan yang relatif stabil dengan Iran. Qatar juga berbagi ladang gas alam terbesar di dunia dengan Teheran.
Uni Emirat Arab, khususnya Dubai, juga memiliki hubungan dagang yang kuat dengan Iran, meskipun dalam beberapa tahun terakhir para pejabat Emirat memilih untuk tidak membuat pernyataan publik.
Arab Saudi dan Iran, meski memiliki sejarah persaingan yang panjang, dalam beberapa tahun terakhir mempertahankan hubungan yang lebih pragmatis dengan membuka saluran komunikasi dan mencegah eskalasi. Riyadh disebut mewaspadai instabilitas regional karena sedang menjalankan agenda reformasi ekonomi yang memerlukan stabilitas regional.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel Al-Jubeir menyatakan bahwa tujuan negaranya adalah mencapai stabilitas dan ketenangan sehingga sumber daya dapat difokuskan untuk membangun masa depan masyarakat yang lebih baik.
“Tujuan kami adalah mencapai stabilitas dan ketenangan sehingga kami dapat mengarahkan sumber daya kami untuk membangun masa depan yang lebih baik bagi rakyat kami,” kata Al-Jubeir.
(dmi/dmi)

