Site icon Pahami

Berita BSSN Tegaskan Keamanan Data Kependudukan Fondasi Kepercayaan Publik

Berita BSSN Tegaskan Keamanan Data Kependudukan Fondasi Kepercayaan Publik


Jakarta, Pahami.id

Badan -badan negara cyber dan sandi (BSSN) menekankan bahwa keamanan data adalah dasar untuk mewujudkan visi integrasi data Indonesia. Dasar ini penting untuk dibangun Keyakinan digital atau kepercayaan publik pada sistem administrasi populasi negara itu.

Wakil BSSN Keamanan Cyber ​​dan Kata Sandi dan Pengembangan Manusia, Sulistyo, mengatakan perlindungan data pribadi diatur dalam hukum nomor 27, yang merupakan referensi dalam setiap pertukaran data.

“Saat data dihapus, itu harus ditentukan sesuai dengan Perjanjian (Persetujuan) Setuju antara subjek data dan pengontrol dan pemroses data, “kata Sulistyo di acara data untuk semua: Semester I 2025 KTT data di Mega Mega Auditorium, Jakarta Selatan, Kamis (28/8).


Ini, sulistyo kontinu, dimaksudkan untuk memastikan bahwa setiap akses atau penggunaan data penduduk secara hukum, dikendalikan dan aman.

Keselamatan data itu sendiri bukan hanya kewajiban teknis, tetapi prasyarat utama bagi layanan berbasis layanan publik untuk berjalan secara optimal. Jika aspek keamanan diabaikan, manfaat pertukaran data untuk layanan publik akan sulit direalisasikan.

Referensi BSSN kemudian tercantum dalam peraturan pemerintah nomor 71 tahun 2019 tentang implementasi sistem dan transaksi elektronik. Setiap penyelenggara sistem elektronik diperlukan untuk memastikan keandalan dan keamanan sistem yang mereka kelola.

Selain itu, standar keamanan antara kontrol data dan pemrosesan data harus setidaknya sama atau lebih tinggi sehingga pertukaran data dilindungi.

Saat ini, Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Populasi dan Pendaftaran Publik (Dukcapil) bersama dengan BSSN telah menyetujui standar keamanan yang harus dipenuhi oleh lebih dari 7 ribu lembaga, baik pemerintah maupun swasta, terkait dengan data populasi. Surat edaran resmi juga telah dikeluarkan untuk memberikan pedoman teknis untuk semua penyelenggara sistem.

Hal berikutnya yang kurang penting, adalah kesiapan sumber daya manusia (SDM). Menurut Sulistyo, partainya dengan Dukcapil telah melakukan beberapa kegiatan dukungan.

“Manajemen staf sistem elektronik harus dilengkapi dengan efisiensi yang cukup.

Namun, tantangannya masih ada. Berdasarkan data BSSN, sekitar 76 persen insiden dunia maya di sektor administrasi pemerintah terjadi karena respons yang lambat terhadap ancaman potensial yang dikirim oleh BSSN.

“Kesadaran penyelenggara sistem elektronik masih perlu ditingkatkan. Setiap kali ada pemberitahuan dari BSSN, segera balas sehingga kerusakan sistem dapat diminimalkan,” kata Sulistyo.

Untuk mengharapkan ancaman dunia maya, BSSN mendorong pembentukan tim respons insiden di semua lembaga pemerintah, baik pusat maupun regional. Langkah ini adalah mandat Presiden Prabowo Subianto yang menjadi sasaran untuk menyelesaikan tahun ini juga.

Dengan tim respons insiden, diharapkan bahwa deteksi dini dan respons cepat terhadap serangan cyber dapat dioptimalkan.

“Jadi kecepatan untuk menanggapi catatan yang disampaikan oleh BSSN adalah penting sehingga efek kerusakan sistem akibat serangan dunia maya dapat diminimalkan,” kata Sulistyo.

(rea/rir)


Exit mobile version