Site icon Pahami

Berita Bangladesh Andalkan AI Guna Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas

Berita Bangladesh Andalkan AI Guna Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas


Jakarta, Pahami.id

Modal BangladeshDhaka, meluncurkan sistem penegakan lalu lintas yang kuat AI (kecerdasan buatan) terlebih dahulu. Penggunaan AI bertujuan untuk mengendalikan lalu lintas dan mengatasi kemacetan.

Dhaka adalah salah satu kota terpadat di dunia. Di sana, bus, mobil, sepeda motor, becak, pejalan kaki tampak berebut tempat. Denda seringkali memicu perdebatan dan tidak jarang petugas ditabrak oleh kendaraan yang tidak mau mematuhi perintah.


“Mereka yang melanggar aturan akan melawan kami. Namun sejak AI diperkenalkan, orang-orang di belakang kemudi sudah mulai mematuhi hukum dan kami terhindar dari perkelahian sehari-hari,” kata sersan lalu lintas SM Nazim Uddin, seperti dilansir AFP.

Awalnya, modernisasi manajemen lalu lintas diupayakan di Dhaka. Namun pengendalian lalu lintas masih mengandalkan sistem manual. Petugas harus meregangkan tali di jalan sebelum lampu lalu lintas menyala hijau.

Kemudian pada bulan April, polisi Dhaka menghubungkan kamera lalu lintas ke perangkat AI yang dirancang untuk mendeteksi pelanggaran secara otomatis.

Sistem bekerja. AI mampu mendeteksi pelanggar lalu lintas termasuk Hannan Rahman Jibon (28). Jibon mengatakan dia menerima pesan teks yang mengatakan kendaraannya menabrak kemacetan. Ia pun otomatis dikenakan denda sebesar 2 ribu taka (hampir Rp 300 ribu).

“Sekarang saya lebih berhati-hati, dengan kamera dipasang di banyak tempat berbeda,” ujarnya.

Meski sudah lama tidak dipasang, Juru Bicara Polda Metro Jaya NM Nasiruddin mengatakan AI untuk lalu lintas sudah membuahkan hasil.

Setidaknya, lanjutnya, polisi telah menindak 300 kendaraan yang melanggar jalan tersebut.

Saat ini cakupan sistem AI belum mencakup seluruh kota. Namun secara bertahap, penegakan lalu lintas manual akan dihapuskan.

[Gambas:Video CNN]

Di sisi lain, para pejabat mengakui bahwa teknologi AI menghadapi beberapa kendala.

“Misalnya, beberapa pelat nomor kabur atau terlalu kecil untuk diidentifikasi,” kata analis Sharmin Afroze yang bekerja di ruang kendali markas polisi.

(kalau tidak)


Menambahkan

sebagai pilihan
sumber di Google




Exit mobile version