Daftar isi
Jakarta, Pahami.id —
Wilayah Tanah penggembalaan yang kini menjadi fokus dunia karena ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trumpmembuka tutup perlakuan negara-negara Eropa dan Amerika terhadap suku-suku asli di wilayah tersebut.
Dalam kasus Greenland, masyarakat adat yang tinggal di sana, Inuit, mempunyai hak terbesar untuk menentukan nasib sendiri. Namun suku yang terbiasa dengan suhu dingin ini jarang sekali diperlihatkan ke publik.
Bahkan selama bertahun-tahun di bawah kekuasaan Denmark, mereka mendapat perlakuan tidak manusiawi.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah melepaskan beberapa perlakuan tidak manusiawi tersebut, melalui laporan pemantauan independen oleh pelapor khusus PBB untuk hak-hak masyarakat adat, Jose Francisco Cali Tzay, pada tahun 2023.
Menurut laporan tersebut, Inuit menghadapi hambatan untuk sepenuhnya menikmati hak-hak dasar mereka.
Perempuan disterilkan secara paksa
“Saya terkejut dengan kesaksian perempuan Inuit yang melaporkan bahwa penyedia layanan kesehatan di Denmark telah memasang alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) tanpa sepengetahuan atau persetujuan mereka. Beberapa dari mereka masih berusia 12 tahun,” katanya.
Program keluarga berencana gaya Denmark ini bertujuan untuk menerapkan program pengendalian kelahiran yang agresif terhadap perempuan dan anak perempuan Inuit di Greenland tanpa persetujuan atau sepengetahuan mereka.
Antara tahun 1966 dan 1970, terdapat sekitar 4.500 alat kontrasepsi (IUD/spiral) yang dipasang pada perempuan dan remaja perempuan Inuit, beberapa di antaranya berusia di bawah 12 tahun. Hal ini bertujuan agar pertumbuhan populasi Inuit tidak besar dan membatasi beban keuangan sosial di Greenland.
Anak-anak Inuit terpaksa tinggal di Denmark
Program yang diberi nama “Little Danes” (1951) ini membawa 22 anak Inuit dari keluarganya di Greenland untuk dibawa ke Denmark dengan tujuan menjadi “Little Danes” agar mereka dapat kembali ke Greenland dan memimpin modernisasi budaya Denmark, meninggalkan identitas Inuit. Dampaknya, mereka menjadi trauma dan kehilangan jati diri.
Kekerasan, kemiskinan dan bunuh diri
PBB juga melaporkan bahwa Greenland masih menghadapi berbagai tantangan sosial terkait kemiskinan dan kurangnya perumahan yang layak, pendidikan berkualitas yang memadai, dan terbatasnya dukungan kesehatan mental, tambahnya.
“Diperkirakan sekitar 20 persen anak-anak di Greenland telah mengalami kekerasan dan pelecehan seksual,” katanya, seraya menambahkan bahwa negara tersebut merupakan salah satu negara dengan tingkat bunuh diri tertinggi di dunia.
Denmark meminta maaf
Namun Denmark melalui Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen baru meminta maaf secara resmi pada September 2025.
“Wanita terkasih. Keluarga terkasih. Greenland terkasih. Hari ini hanya ada satu hal yang benar untuk dikatakan kepada Anda. Maaf,” kata Frederiksen kepada hadirin yang memadati pusat ibu kota Nuuk, seperti dikutip BBCKamis, 25 September 2025.
Diakui Frederiksen, banyak perempuan yang mengalami trauma, komplikasi fisik, hingga ada pula yang tidak mampu melahirkan. Beberapa perempuan yang menjadi korban kontrasepsi paksa menerima amnesti namun tidak menerima kompensasi sama sekali.
Elisa Christensen, misalnya, menganggap permintaan maaf Frederiksen sangat bagus, namun merasa sedih karena kurangnya kompensasi dan omong kosong belaka.
(imf/bac)

