Site icon Pahami

Berita Asal Usul Politik Gentong Babi dan Sejarah Kelam Perbudakan di AS


Jakarta, Pahami.id

Politik tong babi mendadak menjadi perbincangan hangat setelah disinggung dalam film dokumenter Undi Kotor.

Film yang berdurasi sekitar dua jam ini menyoroti pernyataan pakar hukum tata negara Bivitri Susanti yang mengatakan konsep tong babi digunakan pemerintah Indonesia, khususnya dalam program bantuan sosial (bansos).

Kenapa bansos juga dijadikan alat politik dan sebagainya? Ada konsep dalam ilmu politik yang bisa kita gunakan yang disebut politik tong babi, kata Bivitri dalam film tersebut.


Bivitri menjelaskan, politik tong babi merupakan istilah yang mengacu pada masa perbudakan di Amerika Serikat. Saat itu, para budak Amerika saling berkelahi untuk mendapatkan daging babi yang diawetkan dalam tong.

Gara-gara kejadian ini, muncullah istilah “ada orang yang akan memperebutkan kuota resmi demi kenyamanannya”.

Jadi yang kita bicarakan di sini adalah cara politik yang menggunakan uang negara untuk dikucurkan ke daerah pemilihan oleh politisi agar bisa dipilih kembali, kata Bivitri.

Selain itu, bagaimana sejarah politik tong babi dan kaitannya dengan perbudakan di AS?

Istilah tong babi pertama kali muncul untuk menggambarkan pengeluaran mencurigakan yang dilakukan pemerintah Amerika Serikat pada paruh kedua abad ke-19.

Laporan dari Investopedia, istilah ini mengacu pada uang yang dibelanjakan oleh pemerintah untuk proyek-proyek yang nilainya dipertanyakan. Dana tersebut diduga digunakan oleh anggota Kongres untuk kepentingan daerah asal mereka dan keuntungan politik mereka sendiri.

Asal usul istilah tong babi

Secara harfiah, kata gentong babi berasal dari awal tahun 1700-an. Istilah ini mengacu pada daging babi yang diasinkan dan diawetkan dalam tong kayu yang masing-masing dapat menampung lebih dari 30 galon sebelum disimpan di lemari es.

Tom Wakeford dan Jasber Singh dalam bukunya yang berjudul “Towards Empower Participation: Stories and Reflections” menulis bahwa pemilik budak di AS biasa memberikan daging babi asin dalam tong kepada budaknya.

Anak-anak ini dibayar dengan babi dalam tong. Untuk mendapatkan pembayaran, mereka saling bersaing untuk mengambilnya, katanya Sydney Morning Herald.

Pada tahun 1863, penulis dan sejarawan Edward Everett Hale menerbitkan cerita “The Children of the Public” yang menggambarkan pengeluaran pemerintah untuk rakyat.

Sekitar 10 tahun kemudian, muncullah istilah politik tong babi yang berarti penyaluran dana publik oleh politisi untuk kepentingan kelompok kecil guna memperoleh dukungan dalam bentuk suara atau sumbangan kampanye.

Di era modern, tong babi telah ditafsirkan sebagai pengeluaran yang sia-sia untuk proyek pekerjaan umum setempat yang nilainya meragukan atau mencurigakan. Proyek-proyek tersebut hanya berharga bagi mereka yang ingin memenangkan suara para pemilih.

Salah satu contoh konsep tong babi adalah alokasi dana Kongres AS senilai 223 juta atau Rp 343 miliar untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan dua kota kecil di pedesaan Alaska pada tahun 2005.

Proyek ini disebut sebagai pengeluaran yang sia-sia yang bertahun-tahun kemudian dibatalkan demi perbaikan sistem penyeberangan lokal.

(isa/bac)

[Gambas:Video CNN]

!function(f,b,e,v,n,t,s){if(f.fbq)return;n=f.fbq=function(){n.callMethod?
n.callMethod.apply(n,arguments):n.queue.push(arguments)};if(!f._fbq)f._fbq=n;
n.push=n;n.loaded=!0;n.version=’2.0′;n.queue=[];t=b.createElement(e);t.async=!0;
t.src=v;s=b.getElementsByTagName(e)[0];s.parentNode.insertBefore(t,s)}(window,
document,’script’,’//connect.facebook.net/en_US/fbevents.js’);

fbq(‘init’, ‘1047303935301449’);
fbq(‘track’, “PageView”);

Exit mobile version