Jakarta, Pahami.id —
Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menyetujui penjualan senjata baru senilai US$6,67 miliar (sekitar Rp 111,9 triliun) kepada Israel. Kabar tersebut disampaikan Departemen Luar Negeri AS pada Jumat (30/1).
Pengumuman penjualan ke Israel terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah antara Iran dan AS.
Penjualan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump terus mendorong rencana gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina.
Meluncurkan Zaman Israelpenjualan senjata ke Israel dibagi menjadi empat paket terpisah.
Salah satu paketnya adalah 30 helikopter serang Apache beserta peralatan dan senjata terkait. Sedangkan paket lainnya untuk 3.250 kendaraan taktis ringan.
Helikopter Apache yang dijual dilengkapi dengan peluncur roket dan peralatan canggih lainnya. Helikopter tersebut merupakan bagian terbesar dari keseluruhan paket, senilai US$3,8 miliar.
Bagian terbesar berikutnya adalah kendaraan taktis ringan, yang akan digunakan untuk memindahkan personel dan logistik guna ‘mengembangkan jalur komunikasi’ bagi tentara Israel (IDF). Kendaraan taktis ini menelan biaya sekitar US$1,98 miliar.
Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat Gregory Meeks menuduh pemerintahan Trump terburu-buru mengumumkan kesepakatan untuk Israel.
“Pemerintahan Trump secara terang-terangan mengabaikan hak prerogatif kongres yang sudah lama ada, dan menolak melibatkan Kongres dalam pertanyaan-pertanyaan penting mengenai langkah selanjutnya di Gaza dan kebijakan AS-Israel yang lebih luas,” kata Meeks.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Israel akan mengeluarkan tambahan US$740 juta untuk paket listrik pengangkut personel lapis baja yang telah digunakan sejak 2008.
Sisanya sebesar US$150 juta akan digunakan untuk membeli sejumlah kecil helikopter utilitas ringan untuk melengkapi peralatan serupa yang sudah ada.
Departemen Luar Negeri AS mengatakan tidak ada penjualan baru yang akan mempengaruhi keseimbangan militer di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, menurut mereka, penjualan senjata akan meningkatkan kemampuan Israel dalam menghadapi ancaman, baik saat ini maupun di masa depan.
“AS berkomitmen terhadap keamanan Israel. Penting bagi kepentingan nasional AS untuk membantu Israel mengembangkan dan mempertahankan kemampuan pertahanan diri yang kuat dan siap pakai,” tulis pernyataan Departemen Luar Negeri AS.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sendiri mengatakan dirinya bertekad memastikan Israel memiliki industri alutsista yang kuat dan mandiri agar tidak bergantung pada AS.
Pada saat yang sama, Israel juga dilaporkan sedang mempersiapkan pembicaraan dengan pemerintahan Trump mengenai perjanjian keamanan 10 tahun yang baru.
(pantat)

