Site icon Pahami

Berita Anak SD Bunuh Diri Imbas Ekonomi Sulit, DPR Colek Mendikdasmen-Polisi

Berita Anak SD Bunuh Diri Imbas Ekonomi Sulit, DPR Colek Mendikdasmen-Polisi


Jakarta, Pahami.id

Dikatakan Komisi DPRsekolah dasar) yang mengakhiri hidupnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Wakil Ketua Komisi

“Sebelum rehat tanggal 18, sebelumnya kita jadwalkan, minggu depan Insya Allah,” ujarnya di kompleks parlemen, Rabu (4/2).


Kemudian dia mengatakan pihaknya akan mendalami permasalahan di balik kasus tersebut. Ia terutama meragukan pemberitaan tentang penyebab atau alasan bocah itu mengakhiri hidupnya.

“Benarkah karena tidak punya pensil, pulpen dan sebagainya, maka nyawanya berakhir,” ujarnya.

Politisi PKB ini mengatakan, kejadian seorang anak SD di NTT yang mengakhiri nyawanya merupakan pukulan telak bagi dunia pendidikan. Menurut dia, keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk memperbaiki sistem pendidikan perlu dibarengi dengan keinginan pemerintah daerah.

“Jangan sampai masalah ini muncul lagi di daerah lain. Kalau di daerah lain kita tidak tahu, mungkin karena tidak viral sehingga tidak mengetahuinya,” kata Lalu.

Selain menelepon Menteri Pendidikan Dasar, Lalu mengatakan pihaknya juga akan melakukan kunjungan kerja ke NTT. Ia mengaku akan berkoordinasi dengan pemerintah setempat dan menggali informasi dari kejadian tersebut.

Insya Allah ke depan selain berkunjung dan berdiskusi di sana untuk menyelesaikan masalah ini, kami juga akan mengundang pihak-pihak yang berkepentingan, ujarnya.

DPR memanggil polisi

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi

Pertama, polisi perlu menyelidiki penyebab dan menjelaskan penyebab kematian tersebut, kata Andreas saat dihubungi, Rabu (4/2).

Anggota DPR daerah pemilihan NTT itu mengungkapkan keprihatinannya dan menilai kejadian yang terjadi di Kabupaten Jerebuu Ngada itu sangat memilukan.

Menurut Andreas, kasus ini seharusnya menjadi pukulan telak bagi semua pihak. Bukan hanya pemerintah, tapi keluarga dan lingkungan terdekat.

“Tanggung jawab sosial kita harus difokuskan pada penyelamatan generasi anak-anak ini agar tidak tumbuh dewasa,” katanya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Pendidikan DPR, MY Esti Wijayanti mengingatkan, kasus ini perlu menjadi peringatan serius bagi negara, khususnya pemangku kepentingan di bidang pendidikan.

Menurut Esti, tanggung jawab negara terhadap pendidikan anak tidak hanya soal gedung sekolah dan kurikulum, tapi juga menjamin kebutuhan dasar siswa.

Menurut dia, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/PUU-XXII/2024 telah memerintahkan pendidikan dasar harus digratiskan. Keputusan tersebut menegaskan bahwa pihak sekolah tidak boleh mengenakan biaya apapun yang membebani wali siswa.

“Kedepannya tidak ada lagi pungutan langsung maupun pungutan yang terselubung. Pemerintah perlu memastikan bahwa sekolah benar-benar menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bukan ruang yang menimbulkan ketakutan dan stres karena biaya,” ujarnya.

Seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di dahan pohon cengkeh, Kamis (29/1) pekan lalu. Lokasi kejadian tak jauh dari pondok ia tinggal bersama neneknya yang berusia sekitar 80 tahun.

Dalam pemeriksaan di tempat kejadian perkara (TKP), polisi menemukan surat tulisan tangan yang diduga ditujukan kepada ibu korban.

Dari pemeriksaan polisi, sebelum ditemukan tewas gantung diri, korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku catatan dan pulpen. Namun permintaan tersebut tidak dapat dipenuhi karena ibunya tidak mempunyai cukup uang.

(thr/dal)


Exit mobile version