Site icon Pahami

Berita 156 Jam Tanpa Internet, Demo Berdarah di Iran Makin Mencekam

Berita 156 Jam Tanpa Internet, Demo Berdarah di Iran Makin Mencekam


Jakarta, Pahami.id

Demonstrasi berdarah di Iran yang berlangsung sejak 28 Desember, menjadi semakin tegang menyusul pemadaman internet secara nasional yang dilakukan pemerintah selama 156 jam terakhir pada Kamis (15/1).

Situasi ini membuat pelaporan secara real-time menjadi sulit dan menyulitkan informasi dari dalam negeri tersampaikan ke dunia luar, termasuk kesimpangsiuran terkait jumlah kematian yang dilaporkan mencapai lebih dari 2 ribu orang.


Luncurkan situsnya CNNPengawas keamanan siber NetBlocks mengatakan di X bahwa pemadaman komunikasi memasuki hari ketujuh “memberdayakan akun-akun pro-rezim, menyebarkan konten AI palsu dan agenda lainnya.”

Situasi ini juga membuat pemantauan situasi di Iran secara real time menjadi sulit.

Selain itu, pemadaman internet juga mempersulit verifikasi jumlah korban tewas dalam protes berdarah di Iran.

Terdapat berbagai pemberitaan dari media mengenai jumlah kematian di Iran sehingga menimbulkan kebingungan mengenai jumlah korban sebenarnya.

Berdasarkan catatan HRANA, hingga Rabu (14/1), tercatat 2.615 orang tewas, termasuk 13 anak di bawah usia 18 tahun dan 14 warga sipil non-demonstran.

153 korban lainnya adalah anggota pasukan keamanan dan pengunjuk rasa pro-pemerintah, sementara 882 kasus lainnya masih dalam penyelidikan.

Kelompok hak asasi manusia Iran Human Rights (IHR) yang berbasis di Norwegia melaporkan 3.428 kematian pada hari Rabu.

IHR mengklaim telah memperoleh data dari Kementerian Kesehatan Iran serta dokumentasi rumah sakit dan kamar mayat, yang menyebutkan 3.379 pengunjuk rasa tewas pada 8-12 Januari.

Selain itu, intelijen Israel memperkirakan sekitar 5.000 orang terbunuh, sementara media internasional Iran yang berbasis di Inggris menyebutkan jumlah korban tewas lebih dari 12.000 orang.

Namun hingga saat ini Pahami.id belum memperoleh data perbandingan jumlah kematian tersebut dari media resmi Iran seperti IRNA, Mehr News, dan Fars.

Sebab, akses internet di Iran masih terputus total sehingga laman media belum bisa diakses.

Dalam upaya membantu masyarakat Iran tetap terhubung dengan internet, Prancis sedang mempelajari kemungkinan mengirimkan terminal Eutelsat sehingga masyarakat Iran dapat mengakses internet melalui satelit selama pemadaman listrik.

Eutelsat, operator satelit yang berbasis di Paris, memiliki armada satelit orbit rendah yang dapat menyediakan layanan internet dari luar angkasa.

Anak perusahaannya, OneWeb, merupakan pesaing Starlink milik Elon Musk, yang saat ini menyediakan akses internet gratis kepada pengguna di Iran.

(rds)


Exit mobile version